Fisib UTM dan Proyek Membangun Desa: Ikhtiar Menyalakan Lampu dari Seluruh Desa di Nusantara

Membaca buku membangun desa karya mahasiswa prodi sosiologi peserta mata kuliah sosiologi pedesaan dibawah bimbingan sejawat saya Pak Arie ini terus terang perasaan saya campurbaur antara haru, bangga, heran, dan juga kagum. Saya melihat ada secercah cerah dan gairah baru dalam proses belajar mengajar di Prodi Sosiologi FISIB UTM melaksanakan MBKM (merdeka belajar-kampus merdeka). Belajar langsung dari lapangan dan berbaur dengan masyarakat sebagai laboratorium sosial tentu dan selalu saja membawa beragam hal baru. Bahkan kadang  bisa membangkitkan semacam kerinduan,  romantisme eksplorasi pengetahuan dan juga pengalaman living together bersama warga desa beserta dinamikanya. Seringkali romantisme itu bisa membangkitkan dan melahirkan semangat back to village. Saya menangkap ada lentera baru yang hendak dinyalakan oleh mahasiswa peserta matakuliah ini pascaterjun di masyarakat melalui hadirnya buku ini. Ya semangat dan optimisme membangun desa.

Buku output hasil pembelajaran yang diberi judul bangun desa: implementasi pembangunan pedesaan ini kendati masih sederhana tetap menarik karena berisi tentang analisis dan implementasi FGD. 4 metode yakni sosmap, diagram vent, food basket dan matriks acoring dan  1 metode swot analysis. Banyak jenis desa, beragam potensi dan best practice, serta beragam inspirasi adalah beberapa hal menarik dari buku ini. Kita juga bisa merasakan keseriusan para mahasiswa yang langsung berlatih secara langsung membuat perencanaan pembangunan pedesaan berangkat dari partisipasi murni warga dan potensi lokal yang dimilikinya. Saya percaya Buku ini akan bermanfaat untuk menunjang pemetaan potensi yang strategis bagi pembangunan pedesaan di wilayah Jawa Timur dengan spesifikasi desa pesisir, pertanian, perkebunan, sub-urban, dan desa wisata.

Dengan terjun ke masyarakat, mahasiswa otomatis sudah membuktikan diri menjadi pembelajar sekaligus pengerak desa. Mahasiswa melalui kekuatan daya kritisnya tentu bisa memahami, menganalisis dan mensitesis berbagai problem mutakhir yang dihadapi masyarakat. Selanjutkan mereka bisa menemukan peta jalan keluar yang efektif untuk pemecahan beragam masalah tersebut. Kemampuan ini seringkali bisa menjadi lentera dan  mengungkit berbagai potensi desa yang selama ini tersembunyi dan masih tersimpan rapat rapat di desa. Dibawah bimbingan dosen pengampu yang mumpuni akhirnya mahasiswa bisa mengeksplorasi berbagai potensi desa sebagai basis perbaikan kehidupan warga desa. Semangat mengelorakan dan memajukan desa.

Memang tidak mudah untuk bisa kolaborasi datang ke desa dan bisa mendapat kepercayaan stakeholders. Mengantisipasi hal itu saya pikir pembekalan dan pembimbingan menjadi hal yang krusial didalam konteks ini. Saya percaya pak Arie sebagai pengampu dan pembimbing sudah melakukan hal itu. Tiada henti saya menekankan dan sangat berharap agar mahasiswa fisib utm bisa menjadi lentera dan agen solutif sehingga kehadiran dan keberadaannya di masyarakat benar benar bermanfaat dan  menjadi partner produktif bagi pemecahan masalah bersama yang dihadapi oleh warga dan pemerintahan desa. Mahasiswa fisib termasuk sosiologi wajib menjadi solutif dan bisa positif mengerakkan semangat mengabdi dan memberi sesuatu untuk desa yang selama ini masih menjadi mutiara terpendam yang masih dilupakan dan tidak dipandang strategis.

Dalam kesempatan ini izinkan saya menyampaikan apreasiasi dan penghargaan yang tinggi kepada dosen pengampu mata kuliah sosiologi pedesaan Pak DR. Ari Wahyu Prananta yang memungkinkan semua proses ini menjadi kenyataan kendati tidak ada supporting dana dan murni inisiatif mandiri bisa melahirkan proses pmb berkualitas dan melahirkan output karya yang menurut saya visioner. Pak Ari sudah selangkah lebih progresif langsung berinisiatif untuk membawa mahasiswa langsung ke desa dan menyuguhkan berbagai potensi desa menjadi sesuatu yang layak dikaji dan kembangkan. Saya pikir inilah salah satu bentuk implementasi kreasi mutakhir menjadi menjadi dosen pengerak di era kekinian sehingga mahasiswa bisa melihat, mencermati, dan memberi solusi kongkrit atas berbagai problem yang muncul dilapangan dengan memberi karya, berbakti langsung ke desa. Tentu saja hal ini sejalan dengan konsep MBKM yang digagas pak menteri mendikbud dan mendes yang menginginkan mahasiswa tergerak turun ke desa membuat proyek di desa, bakti desa untuk bersama sama membangun Indonesia melalui desa. Saya sebagai pemimpin fakultas sangat mengapresiasi ikhtiar ini semoga model pmb ini terus bisa dikembangkan secara berkelanjutan. Sekaligus menjadi inspirasi bersama semoga ini menjadi titik alun alun yang bisa menjadi simpul perjalanan mahasiswa prodi sosiologi yang mencerahkan bagi negeri ini yang membutuhkan penguatan barisan mahasiswa pengerak pengerak dalam banyak segi kehidupan.

Proyek pembangunan desa sesunggunya bukan proyek utopis. Sudah banyak kajian ilmiah bahwa desa sebagai wilayah dan warga dengan jumlah terbanyak sesungguhnya adalah garda depan sebagai benteng pertahanan negara. Desa kuat negara kuat dan jaya begitulah yang sering diingatkan para ahli pembangunan. Semua pemerhati desa pasti pernah mengingingat kata-kata ‘heroik’ Bapak Moh Hatta pada suatu waktu beliau berujar bahwa Indonesia tidak akan besar karena nyala obor di Jakarta, tetapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin yang nyala di desa. Demikian penting dan strategis posisi pembangunan desa menjadikan negara kini memberi perhatian lebih upaya untuk membangun desa secara utuh, berbasis kemandirian, dan berkelanjutan.

Tentu saja kita tidak menginginkan desa selalu menjadi bahan komoditas politik pada saat pilkada dan menjelang gawe politik dengan menjadikan desa seolah olah penting dan menjadi bahan kampanye untuk menarik elektoral guna mendapatkan dukungan voters dari warga. Betapapun pembangunan desa adalah sebuah keniscayaan dan dari berbagai aspek menurut Ahmad Erani Yustika (2015) layak untuk menjadi prioritas strategis. Setidaknya menurut Erani (2015) mencatat karena dua isu pokok yakni 1) sebagian besar penduduk Indonesia berdiam diri di wilayah desa, meskipun proporsinya dari tahun ke tahun semakin merosot. Saat ini diperkirakan 60% penduduk masih tinggal di desa; 2) kesejahteraan penduduk di desa jauh tertinggal dibandingkan penduduk kota. Sebagian besar penduduk desa bekerja di sektor pertanian atau sektor informal dengan pendapatan yang rendah. Saat ini sekitar 63% dari total penduduk miskin berdiam diri di desa. Tentu ada alasan lain di luar itu, misalnya sebagian besar sumber daya ekonomi yang ada di desa. Kedua argumen di atas merupakan poin utama tentang pentingnya pembangunan pedesaan, baik secara ekonomi, sosial, maupun politik. Dengan demikian sangat perlu meneruskan gerakan kembali ke desa dengan bertumpu pada kerja keras, produktif, dipandu oleh keteladanan pemimpin lokal serta kultur gotong royong dalam membangun sarana infrastruktur.

Mendorong pembangunan desa yang tulus dengan bertumpu kepada pemberdayaan masyarakat lokal sungguh menjadi idaman tidak hanya akan berdimensi kekinian, tetapi juga berdimensi masa depan. Tentu saja itu adalah investasi berharga untuk generasi muda mendatang yang akan melihat disparitas pembangunan kota desa kian pendek dan tak berjarak  dan tidak jauh berbeda. Pembangunan desa yang berbasis partisipasi lokal serta berkelanjutan. Dalam konteks inilah konsep pembangunan desa berbasis SDGs desa menemukan relevasinya. Paling tidak SDGs Desa itu menurut Halim Iskandar (2021) akan bisa memberikan dua arah 1) arah pembangunan kewargaan dan 2) memberi arah pada pembangunan kewilayahan.

Abdul Halim Iskandar (2021) mengatakan bahwa pembangunan berbasis SDGs desa akan memberikan arah dalam hal pendataan di level mikro. Dengan SDGs Desa, mengharuskan desa-desa melakukan pendataan secara mikro, tidak lagi makro sehingga potensi mikro bisa dikembangkan melalui dana desa. Menurut Halim (2021) dengan data-data mikro akan bisa menunjukkan kondisi rill di desa-desa seluruh Indonesia dan ekonomi desa perlahan akan terdongkrak. Nah posisi ini yang memungkinkan masyarakat kampus mengambil peran serta untuk ikut berpartisipasi dan berkolaborasi.  Sekadar gambaran pembangunan desa dengan SDGs Desa dengan basis utama 17 Goals seperti Desa Tanpa Kemiskinan, Desa Tanpa Kelaparan, Desa Sejahtera dan Desa Peduli Pendidikan. Tapi semuanya, berpijak pada tujuan ke-18 yaitu Kelembagaan Desa dan Budaya Desa yang Adaptif. Adapun 18 Goals dalam SDGs Desa yaitu: 1) Desa tanpa kemiskinan, 2) Desa tanpa kelaparan, 3) Desa sehat dan sejahtera, 4) Pendidikan desa berkualitas, 5) Desa berkesetaraan gender, 6)  Desa layak air bersih dan sanitasi, 7) Desa yang berenergi bersih dan terbarukan, 8) Pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi desa, 9) Inovasi dan infrastruktur desa, 10) Desa tanpa kesenjangan, 11) Kawasan pemukiman desa berkelanjutan, 12) Konsumsi dan produksi desa yang sadar lingkungan, 13) Pengendalian dan perubahan iklim oleh desa, 14) Ekosistem laut desa, 15) Ekosistem daratan desa, 16) Desa damai dan berkeadilan, 17) Kemitraan untuk pembangunan desa, 18) Kelembagaan desa dinamis dan budaya desa adaptif. Sungguh potret desa impian yang menjanjikan.

                Pembangunan dan pertumbuhan desa di era saat ini tentu saja diharapkan bisa didorong lebih progresif sehingga bisa melakukan transformasi secara mendasar dan komprehensif. Harapannya desa-desa di Indonesia bisa menjadi kekuatan baru yang menjadi mitra strategis dari pengembangan wilayah perkotaan sebagai satu kesatuan wilayah yang terhubung. Ketika kita melakukan pembangunan pedesaan sebagai sebuah kawasan, kita menginginkan agar kawasan-kawasan ini menjadi perekat dari pembangunan-pembangunan desa. Bahkan bisa menjadi ujung tombak dari pembangunan desa itu sendiri yang bisa diwujudkan dengan pembangunan-pembangunan lainnya. Cita-cita itu tentu harus di dorong lebih kuat agar pembangunan desa benar-benar sinergi dengan pembangunan kawasan yang lain.

Pembangunan desa memang tidak bisa dilakukan sektoral dan terpisah. Prinsip kolaborasi government ini adalah merupakan satu prinsip yang harus kita dorong dan kita wujudkan agar pembangunan desa kian terpadu. Menurut Martin Huseini (2020) Ketua Klaster Center for Innovative Governance (CIGO) FIA-UI setidaknya ada tiga kata kunci bagi keberhasilan membangun desa, yaitu LPC: leader, people (followers), and culture. Fisib UTM berkepentingan dengan tiga hal ini. Desa desa juga perlu kehadiran pemimpin yang mampu membangun sense of crisis dalam melakukan perubahan ke arah perbaikan nasib hidup lebih akseleratif dan progresif. Tahap berikutnya menurut Huseini (2020) dibangun koalisi bersama sehingga ada gerakan sosial yang masif (massive social movement). Visi dari sang pemimpin disosialisasikan dan dikembangkan secara bersama, yakni nilai-nilai ketekunan, mau menolong diri sendiri, dan kolaborasi (diligence, selfhelp, and cooperation). Dalam hal ini, pemimpinnya, agar bisa melakukan dua hal penting, yakni bisa berinovasi dan berkolaborasi dengan warganya (innovative dan collaborative governance) dan serta pada akhirnya mempengaruhi pengikutnya (followers) dalam suatu desain nilai budaya organisasi yang tepat (appropriate organization cultrue), disepakati dan dianut.

Setelah fondasi budaya dibentuk tambah Huseini (2020) kemudian daya ungkit yang inovatif dipilih berdasarkan faktor-faktor kompetensi yang dimiliki di setiap desa, dengan memperhatikan pula kearifan lokal yang ada di desanya. Konsep pembaruan roh baru one village one innovation (OVOI) perlu ditiupkan dan dipandu oleh pemerintah sebagai pengganti roh lama one village one product (OVOP). Tuntunan yang terprogram dalam setiap gugus tugas di setiap desa perlu diarahkan, dipandu, dan difasilitasi agar tujuan membangun desa sebagai pendongkrak ekonomi kota bisa diimplementasikan. Melalui tahapan ini desa-desa di Indonesia akan bisa melakukan transformasi lebih mulus sesuai track policy pembangunan desa. Peta jalan inilah yang membuat kita semua perlu mendukung pembangunan desa berkelanjutan.

Saya percaya akan banyak muncul best practice dari para pemimpin desa seiring dengan policy dana desa yang terus meningkat dan menjadi perhatian publik. Saya juga meyakini akan kian banyak desa desa inventor di Indonesia dan akan banyak desa desa inspiring hadir di negeri ini seiring dengan hadirnya para pemimpin yang inovatif kreatif dan menginspirasi. Kolaborasi perti, pemda, swasta, dan pemdes termasuk membuka peluang tenaga pendamping desa adalah langkah serius untuk membangun desa bersama sama untuk saling menguatkan pembangunan desa. Kampus dan mahasiswa bisa mengambil peran lebih intens di situ sehingga kontribusinya bisa lebih optimal dan berkelanjutan.

Saya juga setuju sebagaimana dianalisis para mahasiwa bahwa pembangunan yang berbasis pedesaan diberlakukan untuk memperkuat fondasi perekonomian negara, mempercepat pengentasan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan perkembangan antar wilayah, sebagai solusi bagi perubahan sosial, desa termasuk membantu mengatasi dampak pandemi covid-19 sebagai basis penguatan lokal dan perubahan berkelanjutan. Semangat ini linier dengan semangat fisib make it happen dan kami akan terus mendukung dan memantapkan ikhtiar untuk terus memiliki tekad ikut berpartisipasi membangun desa dengan mengedepankan kearifan lokal guna menjaga potensi kultural masyarakat dengan segala potensinya.  

Dalam konteks inilah sekali lagi saya menyambut baik hadirnya buku karya mahasiswa peserta matakuliah sosiologi pedesaan ini. Semoga bisa menambah gairah bagi berkembangnya atmosfir akademis di kampus FISIB UTM yang ingin tumbuh sebagai taman persemaian pengetahuan yang indah dan memberi inspirasi bagi perkembangan keilmuan semua civitas academica yang lain. Selamat membaca dan teruslah berproses. Mari kita kuatkan pembangunan desa sebagai benteng pertahanan negara kekinian guna mewujudkan Indonesia lebih kuat dari desa. Terima kasih Prodi sosiologi, para dosen dan mahasiswa atas sumbangsihnya. Jangan lelah mengabdi dan menyemai pengetahuan dari desa

Wallahu muwafiq ila aqwamit thariq

Billahitaufiq wal hidayah

Wassalamualaikum wr.wb.

Kampus Telang FISIB-UTM
Medio Januari 2020
Di Sore hari
Salam hormat,

Surokim As Dekan Fisib UTM

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.