{"id":4204,"date":"2021-01-22T10:15:02","date_gmt":"2021-01-22T03:15:02","guid":{"rendered":"http:\/\/fisib.trunojoyo.ac.id\/?p=4204"},"modified":"2021-01-22T10:15:02","modified_gmt":"2021-01-22T03:15:02","slug":"fisib-utm-dan-proyek-membangun-desa-ikhtiar-menyalakan-lampu-dari-seluruh-desa-di-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fisib.trunojoyo.ac.id\/fisib_en\/fisib-utm-dan-proyek-membangun-desa-ikhtiar-menyalakan-lampu-dari-seluruh-desa-di-nusantara\/","title":{"rendered":"Fisib UTM dan Proyek Membangun Desa: Ikhtiar Menyalakan Lampu dari Seluruh Desa di Nusantara"},"content":{"rendered":"<p class=\"has-text-align-center\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-4192\" style=\"width: 300px;\" src=\"http:\/\/fisib.trunojoyo.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/WhatsApp-Image-2021-01-21-at-14.08.16.jpeg\" alt=\"\"> <\/p>\n\n\n\n<p>Membaca buku membangun desa karya mahasiswa prodi sosiologi peserta mata kuliah sosiologi pedesaan dibawah bimbingan sejawat saya Pak Arie ini terus terang perasaan saya campurbaur antara haru, bangga, heran, dan juga kagum. Saya melihat ada secercah cerah dan gairah baru dalam proses belajar mengajar di Prodi Sosiologi FISIB UTM melaksanakan MBKM (merdeka belajar-kampus merdeka). Belajar langsung dari lapangan dan berbaur dengan masyarakat sebagai laboratorium sosial tentu dan selalu saja membawa beragam hal baru. Bahkan kadang \u00a0bisa membangkitkan semacam kerinduan, \u00a0romantisme eksplorasi pengetahuan dan juga pengalaman <em>living together<\/em> bersama warga desa beserta dinamikanya. Seringkali romantisme itu bisa membangkitkan dan melahirkan semangat <em>back to village<\/em>. Saya menangkap ada lentera baru yang hendak dinyalakan oleh mahasiswa peserta matakuliah ini pascaterjun di masyarakat melalui hadirnya buku ini. Ya semangat dan optimisme membangun desa. <\/p>\n\n\n\n<!--more-->\n\n\n\n<p>Buku output hasil\npembelajaran yang diberi judul <em>bangun\ndesa: implementasi pembangunan pedesaan<\/em> ini kendati masih sederhana tetap menarik\nkarena berisi tentang analisis dan implementasi FGD. 4 metode <em>yakni sosmap, diagram vent, food basket dan\nmatriks acoring <\/em>dan&nbsp; 1 metode swot\nanalysis. Banyak jenis desa, beragam potensi dan <em>best practice<\/em>, serta beragam inspirasi adalah beberapa hal menarik\ndari buku ini. Kita juga bisa merasakan keseriusan para mahasiswa yang langsung\nberlatih secara langsung membuat perencanaan pembangunan pedesaan berangkat\ndari partisipasi murni warga dan potensi lokal yang dimilikinya. Saya percaya Buku\nini akan bermanfaat untuk menunjang pemetaan potensi yang strategis bagi pembangunan\npedesaan di wilayah Jawa Timur dengan spesifikasi desa pesisir, pertanian, perkebunan, sub-urban, dan desa\nwisata. <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan\nterjun ke masyarakat, mahasiswa otomatis sudah membuktikan diri menjadi\npembelajar sekaligus pengerak desa. Mahasiswa melalui kekuatan daya kritisnya\ntentu bisa memahami, menganalisis dan mensitesis berbagai problem mutakhir yang\ndihadapi masyarakat. Selanjutkan mereka bisa menemukan peta jalan keluar yang\nefektif untuk pemecahan beragam masalah tersebut. Kemampuan ini seringkali bisa\nmenjadi lentera dan&nbsp; mengungkit berbagai\npotensi desa yang selama ini tersembunyi dan masih tersimpan rapat rapat di\ndesa. Dibawah bimbingan dosen pengampu yang mumpuni akhirnya mahasiswa bisa mengeksplorasi\nberbagai potensi desa sebagai basis perbaikan kehidupan warga desa. Semangat\nmengelorakan dan memajukan desa.<\/p>\n\n\n\n<p>Memang tidak\nmudah untuk bisa kolaborasi datang ke desa dan bisa mendapat kepercayaan <em>stakeholders. <\/em>Mengantisipasi hal itu saya\npikir pembekalan dan pembimbingan menjadi hal yang krusial didalam konteks ini.\nSaya percaya pak Arie sebagai pengampu dan pembimbing sudah melakukan hal itu. Tiada\nhenti saya menekankan dan sangat berharap agar mahasiswa fisib utm bisa menjadi\nlentera dan agen solutif sehingga kehadiran dan keberadaannya di masyarakat\nbenar benar bermanfaat dan &nbsp;menjadi partner\nproduktif bagi pemecahan masalah bersama yang dihadapi oleh warga dan\npemerintahan desa. Mahasiswa fisib termasuk sosiologi wajib menjadi solutif dan\nbisa positif mengerakkan semangat mengabdi dan memberi sesuatu untuk desa yang\nselama ini masih menjadi mutiara terpendam yang masih dilupakan dan tidak\ndipandang strategis.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\nkesempatan ini izinkan saya menyampaikan apreasiasi dan penghargaan yang tinggi\nkepada dosen pengampu mata kuliah sosiologi pedesaan Pak DR. Ari Wahyu Prananta\nyang memungkinkan semua proses ini menjadi kenyataan kendati tidak ada<em> supporting<\/em> dana dan murni inisiatif\nmandiri bisa melahirkan proses pmb berkualitas dan melahirkan output karya yang\nmenurut saya visioner. Pak Ari sudah selangkah lebih progresif langsung berinisiatif\nuntuk membawa mahasiswa langsung ke desa dan menyuguhkan berbagai potensi desa\nmenjadi sesuatu yang layak dikaji dan kembangkan. Saya pikir inilah salah satu\nbentuk implementasi kreasi mutakhir menjadi menjadi dosen pengerak di era\nkekinian sehingga mahasiswa bisa melihat, mencermati, dan memberi solusi\nkongkrit atas berbagai problem yang muncul dilapangan dengan memberi karya, berbakti\nlangsung ke desa. Tentu saja hal ini sejalan dengan konsep MBKM yang digagas\npak menteri mendikbud dan mendes yang menginginkan mahasiswa tergerak turun ke\ndesa membuat proyek di desa, bakti desa untuk bersama sama membangun Indonesia\nmelalui desa. Saya sebagai pemimpin fakultas sangat mengapresiasi ikhtiar ini\nsemoga model pmb ini terus bisa dikembangkan secara berkelanjutan. Sekaligus\nmenjadi inspirasi bersama semoga ini menjadi titik alun alun yang bisa menjadi simpul\nperjalanan mahasiswa prodi sosiologi yang mencerahkan bagi negeri ini yang membutuhkan\npenguatan barisan mahasiswa pengerak pengerak dalam banyak segi kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p>Proyek\npembangunan desa sesunggunya bukan proyek utopis. Sudah banyak kajian ilmiah\nbahwa desa sebagai wilayah dan warga dengan jumlah terbanyak sesungguhnya adalah\ngarda depan sebagai benteng pertahanan negara. Desa kuat negara kuat dan jaya\nbegitulah yang sering diingatkan para ahli pembangunan. Semua pemerhati desa\npasti pernah mengingingat kata-kata \u2018heroik\u2019 Bapak Moh Hatta pada suatu waktu beliau\nberujar bahwa Indonesia tidak akan besar karena nyala obor di Jakarta, tetapi\nIndonesia akan bercahaya karena lilin-lilin yang nyala di desa. Demikian\npenting dan strategis posisi pembangunan desa menjadikan negara kini memberi\nperhatian lebih upaya untuk membangun desa secara utuh, berbasis kemandirian,\ndan berkelanjutan. <\/p>\n\n\n\n<p>Tentu saja kita\ntidak menginginkan desa selalu menjadi bahan komoditas politik pada saat\npilkada dan menjelang gawe politik dengan menjadikan desa seolah olah penting\ndan menjadi bahan kampanye untuk menarik elektoral guna mendapatkan dukungan <em>voters<\/em> dari warga. Betapapun pembangunan\ndesa adalah sebuah keniscayaan dan dari\nberbagai aspek menurut Ahmad Erani Yustika\n(2015) layak untuk menjadi prioritas strategis. Setidaknya menurut Erani\n(2015) mencatat karena dua isu pokok yakni 1) sebagian besar penduduk Indonesia\nberdiam diri di wilayah desa, meskipun proporsinya dari tahun ke tahun semakin\nmerosot. Saat ini diperkirakan 60% penduduk masih tinggal di desa; 2)\nkesejahteraan penduduk di desa jauh tertinggal dibandingkan penduduk kota. Sebagian\nbesar penduduk desa bekerja di sektor pertanian atau sektor informal dengan\npendapatan yang rendah. Saat ini sekitar 63% dari total penduduk miskin berdiam\ndiri di desa. Tentu ada alasan lain di luar itu, misalnya sebagian besar sumber\ndaya ekonomi yang ada di desa. Kedua argumen di atas merupakan poin utama tentang\npentingnya pembangunan pedesaan, baik secara ekonomi, sosial, maupun politik. Dengan\ndemikian sangat perlu meneruskan gerakan kembali ke desa dengan bertumpu pada kerja keras, produktif,\ndipandu oleh keteladanan pemimpin lokal serta kultur gotong royong dalam\nmembangun sarana infrastruktur.<\/p>\n\n\n\n<p>Mendorong\npembangunan desa yang tulus dengan bertumpu kepada pemberdayaan masyarakat\nlokal sungguh menjadi idaman tidak hanya akan berdimensi kekinian, tetapi juga\nberdimensi masa depan. Tentu saja itu adalah investasi berharga untuk generasi\nmuda mendatang yang akan melihat disparitas pembangunan kota desa kian pendek\ndan tak berjarak &nbsp;dan tidak jauh berbeda.\nPembangunan desa yang berbasis partisipasi lokal serta berkelanjutan. Dalam\nkonteks inilah konsep pembangunan desa berbasis SDGs desa menemukan\nrelevasinya. Paling tidak SDGs Desa itu menurut Halim Iskandar (2021) akan bisa memberikan\ndua arah 1) arah pembangunan kewargaan dan 2) memberi arah pada pembangunan\nkewilayahan. <\/p>\n\n\n\n<p>Abdul Halim Iskandar (2021) mengatakan bahwa pembangunan berbasis SDGs desa akan\nmemberikan arah dalam hal pendataan di level mikro. Dengan SDGs Desa,\nmengharuskan desa-desa melakukan pendataan secara mikro, tidak lagi makro\nsehingga potensi mikro bisa dikembangkan melalui dana desa.&nbsp;Menurut Halim\n(2021) dengan data-data mikro akan bisa menunjukkan kondisi rill di\ndesa-desa seluruh Indonesia dan ekonomi desa perlahan akan terdongkrak. Nah\nposisi ini yang memungkinkan masyarakat kampus mengambil peran serta untuk ikut\nberpartisipasi dan berkolaborasi. &nbsp;Sekadar gambaran pembangunan desa\ndengan SDGs Desa dengan basis utama 17 Goals seperti Desa Tanpa Kemiskinan,\nDesa Tanpa Kelaparan, Desa Sejahtera dan Desa Peduli Pendidikan. Tapi semuanya,\nberpijak pada tujuan ke-18 yaitu Kelembagaan Desa dan Budaya Desa yang Adaptif.\nAdapun 18 Goals dalam SDGs Desa yaitu: 1) Desa tanpa kemiskinan, 2) Desa tanpa\nkelaparan, 3) Desa sehat dan sejahtera, 4) Pendidikan desa berkualitas, 5) Desa\nberkesetaraan gender, 6) &nbsp;Desa layak air\nbersih dan sanitasi, 7) Desa yang berenergi bersih dan terbarukan, 8) Pekerjaan\ndan pertumbuhan ekonomi desa, 9) Inovasi dan infrastruktur desa, 10) Desa tanpa\nkesenjangan, 11) Kawasan pemukiman desa berkelanjutan, 12) Konsumsi dan\nproduksi desa yang sadar lingkungan, 13) Pengendalian dan perubahan iklim oleh\ndesa, 14) Ekosistem laut desa, 15) Ekosistem daratan desa, 16) Desa damai dan\nberkeadilan, 17) Kemitraan untuk pembangunan desa, 18) Kelembagaan desa dinamis\ndan budaya desa adaptif. Sungguh potret desa impian yang menjanjikan.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pembangunan dan pertumbuhan desa di era saat ini tentu saja diharapkan\nbisa didorong lebih progresif sehingga bisa melakukan transformasi secara\nmendasar dan komprehensif. Harapannya desa-desa di Indonesia bisa menjadi\nkekuatan baru yang menjadi mitra strategis dari pengembangan wilayah perkotaan\nsebagai satu kesatuan wilayah yang terhubung. Ketika kita melakukan pembangunan\npedesaan sebagai sebuah kawasan, kita menginginkan agar kawasan-kawasan ini\nmenjadi perekat dari pembangunan-pembangunan desa. Bahkan bisa menjadi ujung\ntombak dari pembangunan desa itu sendiri yang bisa diwujudkan dengan\npembangunan-pembangunan lainnya.&nbsp;Cita-cita itu tentu harus di dorong lebih\nkuat agar pembangunan desa benar-benar sinergi dengan pembangunan kawasan yang\nlain.<\/p>\n\n\n\n<p>Pembangunan\ndesa memang tidak bisa dilakukan sektoral dan terpisah. Prinsip kolaborasi\ngovernment ini adalah merupakan satu prinsip yang harus kita dorong dan kita\nwujudkan agar pembangunan desa kian terpadu. Menurut Martin Huseini (2020) Ketua\nKlaster <em>Center for Innovative Governance\n(CIGO)<\/em> FIA-UI setidaknya ada tiga kata kunci bagi keberhasilan membangun\ndesa, yaitu LPC: <em>leader, people\n(followers), and culture<\/em>. Fisib UTM berkepentingan dengan tiga hal ini. Desa\ndesa juga perlu kehadiran pemimpin yang mampu membangun <em>sense of crisis<\/em> dalam melakukan perubahan ke arah perbaikan nasib\nhidup lebih akseleratif dan progresif. Tahap berikutnya menurut Huseini (2020) dibangun\nkoalisi bersama sehingga ada gerakan sosial yang masif <em>(massive social movement).<\/em> Visi dari sang pemimpin disosialisasikan\ndan dikembangkan secara bersama, yakni nilai-nilai ketekunan, mau menolong diri\nsendiri, dan kolaborasi <em>(diligence,\nselfhelp, and cooperation)<\/em>. Dalam hal ini, pemimpinnya, agar bisa melakukan dua hal penting, yakni\nbisa berinovasi dan berkolaborasi dengan warganya<em> (innovative dan collaborative governance)<\/em> dan serta pada akhirnya\nmempengaruhi pengikutnya <em>(followers)<\/em>\ndalam suatu desain nilai budaya organisasi yang tepat <em>(appropriate organization cultrue),<\/em> disepakati dan dianut.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah\nfondasi budaya dibentuk tambah Huseini (2020) kemudian daya ungkit yang\ninovatif dipilih berdasarkan faktor-faktor kompetensi yang dimiliki di setiap\ndesa, dengan memperhatikan pula kearifan lokal yang ada di desanya. Konsep\npembaruan roh baru <em>one village one\ninnovation (OVOI)<\/em> perlu ditiupkan dan dipandu oleh pemerintah sebagai\npengganti roh lama <em>one village one\nproduct (OVOP).<\/em> Tuntunan yang terprogram dalam setiap gugus tugas di setiap\ndesa perlu diarahkan, dipandu, dan difasilitasi agar tujuan membangun desa\nsebagai pendongkrak ekonomi kota bisa diimplementasikan. Melalui tahapan ini\ndesa-desa di Indonesia akan bisa melakukan transformasi lebih mulus sesuai\ntrack policy pembangunan desa. Peta jalan inilah yang membuat kita semua perlu\nmendukung pembangunan desa berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya percaya akan banyak muncul <em>best practice<\/em> dari para pemimpin desa\nseiring dengan policy dana desa yang terus meningkat dan menjadi perhatian\npublik. Saya juga meyakini akan kian banyak desa desa inventor di Indonesia dan\nakan banyak desa desa inspiring hadir di negeri ini seiring dengan hadirnya para\npemimpin yang inovatif kreatif dan menginspirasi. Kolaborasi perti, pemda, swasta,\ndan pemdes termasuk membuka peluang tenaga pendamping desa adalah langkah serius untuk\nmembangun desa bersama sama untuk saling menguatkan pembangunan desa. Kampus\ndan mahasiswa bisa mengambil peran lebih intens di situ sehingga kontribusinya\nbisa lebih optimal dan berkelanjutan. <\/p>\n\n\n\n<p>Saya\njuga setuju sebagaimana dianalisis para mahasiwa bahwa pembangunan yang berbasis pedesaan diberlakukan\nuntuk memperkuat fondasi perekonomian negara, mempercepat pengentasan\nkemiskinan dan pengurangan kesenjangan perkembangan antar wilayah, sebagai\nsolusi bagi perubahan sosial, desa termasuk membantu mengatasi dampak pandemi\ncovid-19 sebagai basis penguatan lokal dan perubahan berkelanjutan. Semangat\nini linier dengan semangat fisib <em>make it\nhappen<\/em> dan kami akan terus mendukung dan memantapkan ikhtiar untuk terus memiliki tekad ikut berpartisipasi membangun\ndesa dengan mengedepankan kearifan lokal guna menjaga potensi kultural\nmasyarakat dengan segala potensinya. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\nkonteks inilah sekali lagi saya menyambut baik hadirnya buku karya mahasiswa\npeserta matakuliah sosiologi pedesaan ini. Semoga bisa menambah gairah bagi berkembangnya\natmosfir akademis di kampus FISIB UTM yang ingin tumbuh sebagai taman persemaian\npengetahuan yang indah dan memberi inspirasi bagi perkembangan keilmuan semua\ncivitas academica yang lain. Selamat membaca dan teruslah berproses. Mari kita\nkuatkan pembangunan desa sebagai benteng pertahanan negara kekinian guna\nmewujudkan Indonesia lebih kuat dari desa. Terima kasih Prodi sosiologi, para\ndosen dan mahasiswa atas sumbangsihnya. Jangan lelah mengabdi dan menyemai\npengetahuan dari desa<\/p>\n\n\n\n<p><em>Wallahu muwafiq ila aqwamit thariq<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Billahitaufiq wal hidayah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Wassalamualaikum wr.wb.<\/em><\/p>\n\n\n\n<pre class=\"wp-block-verse\">Kampus Telang FISIB-UTM<br> Medio Januari 2020 <br> Di Sore hari  <br> Salam hormat, <br><br> Surokim As Dekan Fisib UTM  <\/pre>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Membaca buku membangun desa karya mahasiswa prodi sosiologi peserta mata kuliah sosiologi pedesaan dibawah bimbingan sejawat saya Pak Arie ini terus terang perasaan saya campurbaur antara haru, bangga, heran, dan juga kagum. Saya melihat ada secercah cerah dan gairah baru dalam proses belajar mengajar di Prodi Sosiologi FISIB UTM melaksanakan MBKM (merdeka belajar-kampus merdeka). Belajar [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":4192,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[544],"class_list":["post-4204","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fisib.trunojoyo.ac.id\/fisib_en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4204","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fisib.trunojoyo.ac.id\/fisib_en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fisib.trunojoyo.ac.id\/fisib_en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisib.trunojoyo.ac.id\/fisib_en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisib.trunojoyo.ac.id\/fisib_en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4204"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fisib.trunojoyo.ac.id\/fisib_en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4204\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisib.trunojoyo.ac.id\/fisib_en\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fisib.trunojoyo.ac.id\/fisib_en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4204"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisib.trunojoyo.ac.id\/fisib_en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4204"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisib.trunojoyo.ac.id\/fisib_en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4204"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}